Showing posts with label IPS. Show all posts
Showing posts with label IPS. Show all posts

11.9.18

MATERI PELAJARAN SEKOLAH : ZAMAN MESOLITHIKUM


MESOLITHIKUM

Mesolitikum (Bahasa Yunani: mesos "tengah", lithos batu) atau "Zaman Batu Pertengahan" adalah suatu periode dalam perkembangan teknologi manusia, antara Paleolitik atau Zaman Batu Tua dan Neolitik atau Zaman Batu Muda. Untuk alat-alat perkakas yang digunakan pada masa Mesolithikum hampir sama dengan alat-alat pada zaman Palaeolithikum hanya sudah sedikit dihaluskan.
Istilah ini diperkenalkan oleh John Lubbock dalam makalahnya "Jaman Prasejarah" (bahasa Inggris: Pre-historic Times) yang diterbitkan pada tahun 1865. Namun istilah ini tidak terlalu sering digunakan sampai V. Gordon Childe mempopulerkannya dalam bukunya The Dawn of Europe. Zaman ini di perkirakan berlangsung pada masa Holosen (10.000 tahun yang lalu).
Pada zaman mesolitikum di Indonesia, manusia hidup tidak jauh berbeda dengan zaman paleolitikum, yaitu dengan berburu dan menangkap ikan, namun manusia pada masa itu juga mulai mempunyai tempat tinggal agak tetap dan bercocok tanam secara sederhana. Tempat tinggal yang mereka pilih umumnya berlokasi di tepi pantai (kjokkenmoddinger) dan goa-goa (abris sous roche) sehingga di lokasi-lokasi tersebut banyak ditemukan berkas-berkas kebudayaan manusia pada zaman itu.
Cara hidup pada masa mesolitikum masih dipengaruhi oleh cara hidup sebelumnya. Factor-faktor alam seperti iklim, kesuburan tanah dan keadaan fauna amat berpengaruh dan menentukan hidup mereka sehari-hari. Hidup mereka masih sepenuhnya tergantung pada alam. Dalam hidup yang sepenuhnya tergantung pada alam tersebut, mereka juga menunjukkan keinginan untuk bertempat tinggal. Tempat yang mereka tinggali adalah gua-gua alam (caves) atau di gua-gua payung atau ceruk (rock-shelters) walaupun tidak menetap (Soejono, 2010: 180).
Mereka memilih gua-gua yang tidak jauh dari sumber air, atau di dekat sungai yang mengandung sumber-sumber makanan seperti ikan, kerang, dan siput. Selain itu, pertimbangan kesuburan tanah dan kondisi gua sendiri juga menjadi pertimbangan mereka menempati gua. Kondisi gua yang akan dipilih oleh mereka apabila pencahayaan dan sirkulasi udara lancer (guna), lantai gua harus lebih tinggi dari permukaan, dan lantai gua dari tanah. Karena jika dari tanah apabila malam akan hangat dan siang dingin. Sehubungan dengan kesuburan tanah, apabila tanah tidak subur untuk tanaman, mereka akan mencari tempat lain untuk melangsungkan hidup.
Berdasarkan temuan-temuan artefak pada masa mesolitikum ini, tampaklah kelanjutan tradisi alat-alat batu dan tulang. Penbuatan alat-alat dari batu dan tulang menghasilkan kapak genggam Sumatra dan kapak pendek di beberapa wilayah, sedangkan alat serpih-bilah boleh dikatakan sebagai pelengkap alat-alat utama. Di samping pembuatan alat dari batu, tulang, tanduk, dan kulit kerang, ada juga kemungkinan mereka sudah membuat alat-alat dari pepohonan yang ada. Misalnya bambu, karena bamboo bisa dijadikan lancipan untuk sudip dan lainnya. Selain itu untuk tempat makanan bambu bisa digunakan sebagai wadah apabila dianyam.
Menurut Prasetyo (dalam Soejono, 2010: 181), mengatakan bahwa penemuan api dan perkembangan teknologi pertanian merupakan proses pembarun yang memberntuk dasar budaya. Hal ini mungkin karena selain mendatangkan tanda awal kehidupan social, juga melahirkan teknologi lainnya yang berhubungan. Artinya di sini, mereka akan berpikir apa saja yang bisa dilakukan untuk membuat makanan dengan menggunakan perapian. 
Sebagian manusia pendukung kebudayaan mesolitikum masih tetap berburu dan mengumpulkan makanan, tetapi sebagian besar dari mereka sudah mempunyai tempat tinggal tetap di gua-gua dan bercocok tanam secara sederhana. Ada pula pendukung kebudayaan batu madya yang hidup di daerah pesisir. Hal tersebut karena ditemukannya kjokkenmoddinger,yang membuktikan bahwa mereka hidup dengan menangkap ikan, siput, dan kerang.
Bercocok tanam dikerjakan secara sederhana dan dilakukan secara berpindah-pindah menurut keadaan kesuburan tanah. mereka menanam umbi-umbian,.Mereka juga sudah menanan sejenis padi liar (sudah melakukan domestikasi). Setelah musim panen selesai, lahan pertanian yang sederhana itu akan ditinggalkan dan mencari tempat baru. Di tempat baru ini mereka akan melakukan pola kehidupan seperti sebelumnya. Kehadiran alat-alat batu, alat-alat tulang, dan gerabah memberikan gambaran bahwa mereka sudah mulai memasak makanan atau hasi panen dan buruan mereka. Karena seperti kita ketahui bahwa gerabah bisa digunakan sebagai wadah dan tempat memasak. Jadi mungkin inilah hubungan adanya api dengan perkenbangan alat-alat selanjutnya.
 Pada masa itu, manusia sudah berusaha menjinakkan binatang (domestikasi). Hal ini dibuktikan dengan penemuan fosil gigi anjing di Gua Cokondo, Sulawesi Selatan Hawkes (dalam Soejono: 184). Meskipun tidak ada bukti-bukti yang kuat tentang hal tersebut, yaitu yang nantinya akan berkaitan dengan pemeliharaan dan perkembangbiakan binatang. Namun seperti kita ketahui bahwa anjing adalah binatang yang dapat menolong manusia dalam hidupnya, seperti berburu, dapat dipergunakan untuk menjaga tempat tinggal, dan dapat digunakan untuk berburu di dalam hutan, karena anjing adalah hewan karnivora dan memiliki daya cium yang sangat tajam.
Ciri zaman Mesolithikum:
·         Nomaden dan masih melakukan food gathering (mengumpulkan makanan)
·  Alat-alat yang dihasilkan nyaris sama dengan zaman palaeolithikum yakni masih merupakan alat-alat batu kasar.
·   Ditemukannya bukit-bukit kerang di pinggir pantai yang disebut Kjoken Mondinger (sampah dapur)
·    Alat-alat zaman mesolithikum antara lain: Kapak genggam (Pebble), Kapak pendek (hache Courte) Pipisan (batu-batu penggiling) dan kapak-kapak dari batu kali yang dibelah.
·    Alat-alat diatas banyak ditemukan di daerah Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, Flores.
·      Alat-alat kebudayaan Mesolithikum yang ditemukan di gua Lawa Sampung, Jawa Timur yang disebut Abris Sous Roche antara lain: Flakes (Alat serpih),ujung mata panah, pipisan, kapak persegi dan alat-alat dari tulang.
Empat bagian penting kebudayaan Mesolithikum:
1.        Pebble-Culture
a.       Kjokkenmoddinger (Sampah Dapur)

Kjokkenmoddinger atau midden, juga dikenal sebagai sampah dapur, atau tumpukan kerangadalah sebuah tempat pembuangan sampah lokal. Kata 'midden' ini berasal dari bahasa Skandinavia melalui derivasi Bahasa Inggris Pertengahan, tetapi digunakan oleh arkeolog di seluruh dunia untuk mengartikan sesuatu yang berisi produk sampah dan berhubungan dengan kehidupan manusia sehari-hari. Sesuatu tersebut berupa parit yang digunakan sekali yang dibuat oleh kelompok orang-orang menetap secara sementara atau jangkap lama, sebagai tempat pembuangan khusus yang digunakan oleh masyarakat sedenter dan terus menumpuk selama beberapa generasi
Kjokkenmoddinger adalah timbunan atau tumpukan kulit kerang dan siput yang mencapai ketinggian ± 7 meter dan sudah membatu atau menjadi fosil. Kjokkenmoddinger ditemukan disepanjang pantai timur Sumatera yakni antara Langsa dan Medan. Dari bekas-bekas penemuan tersebut menunjukkan bahwa manusia purba yang hidup pada zaman ini sudah menetap. Tahun 1925 Dr. P.V. Van Stein Callenfels melakukan penelitian di bukit kerang tersebut dan hasilnya banyak menemukan kapak genggam yang ternyata berbeda dengan chopper (kapak genggam Palaeolithikum).
Penemuan ini kemudian melahirkan asumsi bahwa pada zaman tersebut kehidupan manusia sangat bergantung pada hasil tangkapan siput dan kerang. Selain Kjokkenmoddinger, dalam penelitiannya Van Stein juga menemukan banyak benda berupa: batu penggiling beserta pipisannya, kapak genggam dan juga pecahan-pecahan tengkorak dan gigi.
b.      Pebble (kapak genggam Sumatera = Sumateralith)

Tahun 1925, Dr. P.V. Van Stein Callenfels melakukan penelitian di bukit kerang tersebut dan hasilnya menemukan kapak genggam. Kapak genggam yang ditemukan di dalam bukit kerang tersebut dinamakan dengan pebble/kapak genggam Sumatra (Sumatralith) sesuai dengan lokasi penemuannya yaitu dipulau Sumatra. Bahan-bahan untuk membuat kapak tersebut berasal batu kali yang dipecah-pecah.
c.       Hache Court

Hache Court itu berasal dari bahasa perancis yaiut kapak pendek. selain kapak genggam dalam tumpukan sampah (Kjokkenmoddinger) itu juga ditemukan sejenis kapak tetapi bentuknya pendek (setengah lingkaran) yang disebut dengan hachecourt/kapak pendek
d.      Pipisan
Selain kapak-kapak yang ditemukan dalam bukit kerang, juga ditemukan pipisan (batu-batu penggiling beserta landasannya). Batu pipisan selain dipergunakan untuk menggiling makanan juga dipergunakan untuk menghaluskan cat merah. Bahan cat merah berasal dari tanah merah. Cat merah diperkirakan digunakan untuk keperluan religius dan untuk ilmu sihir.
2.        Bone-Culture (alat kebudayaan dari Tulang)
Berdasarkan alat-alat kehidupan yang ditemukan di goa lawu di Sampung (daerah Ponorogo - Madiun Jawa Timur) tahun 1928 - 1931, ditemukan alat-alat dari batu seperti ujung panah dan flakes, kapak yang sudah diasah, alat dari tulang, tanduk rusa, dan juga alat-alat dari perunggu dan besi. Oleh para arkeolog bagian terbesar dari alat-alat yang ditemukan itu adalah tulang, sehingga disebut sebagai Sampung Bone Culture.
Sampung bone culture
3.        Flakes Culture
a.         Abris Sous Roche (Gua tempat tinggal)
Abris Sous Roche adalah goa-goa yang yang dijadikan tempat tinggal manusia purba pada zaman Mesolithikum dan berfungsi sebagai tempat perlindungan dari cuaca dan binatang buas. Penyelidikan pertama pada Abris Sous Roche dilakukan oleh Dr. Van Stein Callenfels tahun 1928-1931 di goa Lawa dekat Sampung Ponorogo Jawa Timur. Alat-alat yang ditemukan pada goa tersebut antara lain alat-alat dari batu seperti ujung panah, flakes, batu pipisan, kapak yang sudah diasah yang berasal dari zaman Mesolithikum, serta alat-alat dari tulang dan tanduk rusa.Di antara alat-alat kehidupan yang ditemukan ternyata yang paling banyak adalah alat dari tulang sehingga oleh para arkeolog disebut sebagai Sampung Bone Culture / kebudayaan tulang dari Sampung. Karena goa di Sampung tidak ditemukan Pebble ataupun kapak pendek yang merupakan inti dari kebudayaan Mesolithikum. Selain di Sampung, Abris Sous Roche juga ditemukan di daerah Besuki dan Bojonegoro Jawa Timur. Penelitian terhadap goa di Besuki dan Bojonegoro ini dilakukan oleh Van Heekeren. Di Sulawesi Selatan juga banyak ditemukan Abris Sous Roche terutama di daerah Lomoncong yaitu goa Leang Patae yang di dalamnya ditemukan flakes, ujung mata panah yang sisi-sisinya bergerigi dan pebble. Di goa tersebut didiami oleh suku Toala, sehingga oleh tokoh peneliti Fritz Sarasin dan Paul Sarasin, suku Toala yang sampai sekarang masih ada dianggap sebagai keturunan langsung penduduk Sulawesi Selatan zaman prasejarah. Untuk itu kebudayaan Abris Sous Roche di Lomoncong disebut kebudayaan Toala. Kebudayaan Toala tersebut merupakan kebudayaan Mesolithikum yang berlangsung sekitar tahun 3000 sampai 1000 SM. Selain di Jawa Timur dan Sulawesi Selatan, Abris Sous Roche juga ditemukan di daerah Timor dan Rote. Penelitian terhadap goa tersebut dilakukan oleh Alfred Buhler yang di dalamnya ditemukan flakes dan ujung mata panah yang terbuat dari batu indah
b.        Kebudayaan bacson-hoabinh
Goa tempat ditemukannya alat alat peninggalan kebudayaan bacson hoabinh

Alat serpih peninggalan kebudayaan bacson-hoabinh
Kebudayaan ini ditemukan dalam gua-gua dan dalam bukit-bukit kerang di Indo-China, Siam, Malaka, dan Sumatera Timur. Alat-alat kebudayaannya terbuat dari batu kali, seperti bahewa batu giling. Pada kebudayaan ini perhatian terhadap orang meninggal dikubur di gua dan juga di bukit-bukit kerang. Beberapa mayatnya diposisikan dengan berjongkok dan diberi cat warna merah. Pemberian cat warna merah bertujuan agar dapat mengembalikan hayat kepada mereka yang masih hidup. Di Indonesia, kebudayaan ini ditemukan di bukit-bukit kerang. Hal seperti ini banyak ditemukan dari Medan sampai ke pedalaman Aceh. Bukit-bukit itu telah bergeser sejauh 5 km dari garis pantai menunjukkan bahwa dulu pernah terjadi pengangkatan lapisan-lapisan bumi. Alur masuknya kebudayaan ini sampai ke Sumatera melewati Malaka. Di Indonesia ada dua kebudayaan Bacson-Hoabinh, yakni:
·      Kebudayaan pebble dan alat-alat dari tulang yang datang ke Indonesia melalui jalur barat.
·      Kebudayaan flakes yang datang ke Indonesia melalui jalur timur.
Dengan adanya keberadaan manusia jenis Papua Melanosoide di Indonesia sebagai pendukung kebudayaan Mesolithikum, maka para arkeolog melakukan penelitian terhadap penyebaran pebble dan kapak pendek sampai ke daerah teluk Tonkin daerah asal bangsa Papua Melanosoide. Dari hasil penyelidikan tersebut, maka ditemukan pusat pebble dan kapak pendek berasal dari pegunungan Bacson dan daerah Hoabinh, di Asia Tenggara. Tetapi di daerah tersebut tidak ditemukan flakes, sedangkan di dalam Abris Sous Roche banyak ditemukan flakes bahkan di pulau Luzon (Filipina) juga ditemukan flakes. Ada kemungkinan kebudayaan flakes berasal dari daratan Asia, masuk ke Indonesia melalui Jepang, Formosa dan Filipina.
c.         Kebudayaan Toala

Lukisan dinding peninggalan kebudayaan toala
Alat serpih peninggalan kebudayaan toala
Kebudayaan Toala dan yang serumpun dengan itu disebut juga kebudayaan flake dan blade. Alat-alatnya terbuat dari batu-batu yang menyerupai batu api dari eropa, seperti chalcedon, jaspis, obsidian dan kapur. Perlakuan terhadap orang yang meninggal dikuburkan didalam gua dan bila tulang belulangnya telah mengering akan diberikan kepada keluarganya sebagai kenang-kenangan. Biasanya kaum perempuan akan menjadikan tulang belulang tersebut sebagai kalung. Selain itu, didalam gua terdapat lukisan mengenai perburuan babi dan juga rentangan lima jari yang dilumuri cat merah yang disebut dengan “silhoutte”. Arti warna merah tanda berkabung. Kebudayaan ini ditemukan di Jawa (Bandung, Besuki, dan Tuban), Sumatera (danau Kerinci dan Jambi), Nusa Tenggara di pulau Flores dan Timor.
Hasil Kebudayaan Mesolithikum
Jadi dapat disimpulkan beberapa peninggalan kebudayaan mesolitikum sebagai berikut

  • ·         Hasil kebudayaan dan Alat yang digunakan
  • ·         Kapak Genggam / chopper
  • ·         Kapak dengan bahan batu kali yang dipecah
  • ·         Kapak pendek
  • ·         Kapak dengan bentuk  pendek (setengah lingkaran) yang disebut dengan hachecourt/kapak pendek.
  • ·         Flakes
  • ·         serpihan-serpihan yang terbuat dari batu-batu biasa tetapi ada juga yang dari batu berwarna/caldeson.
  • ·         Alat-alat dari tanduk rusa
  • ·         Lukisan dinding

10.9.18

MATERI PELAJARAN SEKOLAH : ZAMAN PALEOLITIKUM



Zaman paleolitikum
Zaman batu adalah suatu periode ketika peralatan manusia secara dominan terbut dari batu walaupun ada pula alat-alat penunjang hidup manusia yang terbuat dari kayu ataupun bambu. Namun alat-alat yang terbuat dari kayu atau tulang tersebut tidak meninggalkan bekas sama sekali. Hal ini disebabkan karena bahan-bahan tersebut tidak tahan lama. Dalam zaman ini alat-alat yang dihasilkan masih sangat kasar (sederhana) karena hanya sekadar memenuhi kebutuhan hidup saja. Zaman batu tua diperkirakan berlangsung kira-kira 600.000 tahun yang lalu, yaitu selama masa pleistosen (diluvium). Pada zaman paleolithikum ini, alat-alat yang mereka hasilkan masih sangat kasar.
Paleolitikum terdiri dari dua kata yaitu kata paleos yang mempunyai arti batu dan kata litikum yang berasal dari kata litos yang mempunyai arti tua, Maka biasa juga zaman paleolitikum disebut dengan zaman batu tua. Diperkirakan zaman batu tua berlangsung pada masa pleistosen awal yaitu kira-kira pada enam ratus ribu tahun yang lalu.
Peninggalan alat hasil budaya dari zaman ini terbuat dari batu yang masih sangat kasar dalam pembuatannya. Jika di lihat dari daerah tempat penemuannya maka alat-alat kebudayaan Paleolithikum bisa dikelompokan menjadi 2 yaitu kebudayaan pacitan dan kebudayaan ngandong.
Peninggalan alat-alat hasil budaya dari kebudayaan zaman batu tua yang ditemukan di daerah pacitan ( jawa timur ) berupa kapak genggam, kapak perimbas, kapak penetak dan alat dari serpihan batu atau flake. Selain di temukan di di wilayah pacitan provinsi jawa timur alat-alat yang masih sejenis juga di temukan di wilayah lain indonesia seperti di wilayah sukabumi provinsi jawa barat, perigi dan gombong provinsi jawa tengah, tambangsawah provinsi bengkulu, lahat provinsi sumatra selatan, kalianda provinsi lampung, cabenge provinsi sulawesi selatan, awal bangkal provinsi kalimantan selatan, truyan bali dan di wilayah maumere flores. Dengan di temukannya peninggalan hasil budayanya di berbagai tempat di wilayah indonesia dapat membuktikan kalau proses dari migrasi manusia purba menyebar ke hampir semua wilayah indonesia.
Hasil Kebudayaan Masa Praaksara|Kebudayaan masa praaksara atau prasejarah menghasilkan macam-macam dan jenis-jenis benda-benda yang dibedakan kebudayaan batu dan kebudayaan logam. Macam-macam hasil yang ditemukan pada zaman praaksara memiliki berbagai kegunaan dan penemu dari macam-macam hasil kebudayaan masa praaksara, karna dalam manusia purba terdapat berbagai alat dan kebudayaan atau hal-hal yang dilakukan manusia purba yang menjadikan sebagai hasil dari kebudayaan masa praaksara seperti hasil kebudayaan paleolithikum, hasil kebudayaan mesolithikum, hasil kebudayaan neolithikum, hasil kebudayaan logam, hasil kebudayaan megalithikum yang merupakan peninggalan pada manusia purba.
Proses pembuatan kapak batu:
1.        Memilih batu yang cocok dan mudah dibentuk
2.        Batu tersebut dipukulkan dengan menggunakan batu yang lebih keras
3.        Pembentukan dengan cara dihaluskan menggunakan kapak tulang, tangan juga dilindungi dengan kulit.
Manusia pendukung zaman ini adalah Pithecantropus Erectus, Homo Wajakensis, Meganthropus Paleojavanicus dan Homo Soloensis. Fosil-fosil ini ditemukan di sepanjang aliran sungai Bengawan Solo. Mereka memiliki kebudayaan Pacitan dan Ngandong. Kebudayaan Pacitan pada tahun 1935, Von Koenigswald menemukan alat-alat batu dan kapak genggam di daerah Pacitan. Cara kerjanya digenggam dengan tangan. Kapak ini dikerjaan dengan cara masih sangat kasar. Para ahli menyebut alat pada zaman Paleolithikum dengan nama chopper. Alat ini ditemukan di Lapisan Trinil. Selain di Pacitan, alat-alat dari zaman Paleplithikum ini temukan di daerah Progo dan Gombong (Jawa Tengah), Sukabumi (Jawa Barat), dan Lahat (Sumatera Selatan).
A.      CIRI-CIRI ZAMAN PALEOLITHIKUM
Zaman Paleolithikum ditandai dengan kebudayan manusia yang masih sangat sederhana. Ciri-ciri kehidupan manusia pada zaman Paleolithikum, yakni:
1.         Hidup berpindah-pindah (Nomaden)
2.         Berburu (Food Gathering)
3.         Menangkap ikan
Berdasarkan penemuan fosil manusia purba, jenis manusia purba hidup pada zaman Paleolitikum adalah Pithecanthropus Erectus, Homo Wajakensis, Meganthropus paleojavanicus, dan Homo Soliensis. Fosil ini ditemukan di aliran sungai Bengawan Solo.
Berdasarkan daerah penemuannya maka alat-alat kebudayaan Paleolithikum tersebut dapat dikelompokan menjadi kebudayaan pacitan dan kebudayaan ngandong.
a.         Kebudayaan Pacitan
Pada tahun 1935, von Koenigswald menemukan alat batu dan kapak genggam di daerah Pacitan. Kapak genggam itu berbentuk kapak tetapi tidak bertangkai. Kapak ini masih dikerjakan dengan sangat kasar dan belum dihaluskan. Para ahli menyebutkan bahwa kapak itu adalah kapak penetak. Selain di Pacitan alat-alat banyak ditemukan di Progo dan Gombong (Jawa Tengah), Sukabumi (Jawa Barat), dan Lahat (Sumatera Utara).
b.         Kebudayaan Ngandong
Para ahli berhasil menemukan alat-alat dari tulang, flakes, alat penusuk dari tanduk rusa dan ujung tombak bergigi di daerah Ngandong dan Sidoarjo. Selain itu di dekat Sangiran ditemukan alat sangat kecil dari betuan yang amat indah. Alat ini dinamakan Serbih Pilah, dan banyak ditemukan di Cabbenge (Sulawesi Selatan) yang terbuat dari batu-batu indah seperti kalsedon. Kebudayaan Ngandong juga didukung oleh penemuan lukisan pada dinding goa seperti lukisan tapak tangan berwarna merah dan babi hutan ditemukan di Goa Leang Pattae (Sulawesi Selatan)
B.       ALAT-ALAT ZAMAN PALEOLITHIKUM
Pada zaman ini alat-alat terbuat dari batu yang masih kasar dan belum dihaluskan. Contoh alat-alat tersebut adalah:
1.         Kapak Genggam
Kapak genggam adalah sebuah batu yang mirip dengan kapak, tetapi tidak bertangkai dan cara mempergunakannya dengan cara menggenggam. Kapak genggam terkenal juga dengan sebutan kapak perimbas, dalam ilmu prasejarah disebut chopper artinya alat penetak. Kapak genggam pernah ditemukan oleh Von Koenigswald pada 1935 di sungai Baksoko, Desa Punung,Pacitan, Jawa Timur. Batu genggam biasanya dibuat dari batu gamping. Batu tersebut dipahat memanjang atau diserpih sehingga berbetuk serpihan.
Kapak genggam banyak ditemukan di daerah Pacitan. Alat ini biasanya disebut "chopper" (alat penetak/pemotong)
Alat ini dinamakan kapak genggam karena alat tersebut serupa dengan kapak, tetapi tidak bertangkai dan cara mempergunakannya dengancara menggenggam. Pembuatan kapak genggam dilakukan dengan cara memangkas salah satu sisi batu sampai menajam dan sisi lainnya dibiarkan apa adanyasebagai tempat menggenggam. Kapak genggam berfungsi menggali umbi, memotong, dan menguliti binatang.
Fungsi Kapak genggam digunakan untuk memecahkan telor menumbuk, biji-bijian, membuat serat-serat dari pepohonan, membunuh binatang buruan, dan sebagai senjata menyerang lawannya.
Penyebaran Hasil penyelidikan menunjukkan bahwa kapak jenis ini berasal dari lapisan Trinil, yaitu pada masa Pleistosen Tengah, sehingga disimpulkan bahwa pendukung kebudayaan kapak genggam adalah manusia Pithecanthropus erectus.[2] Daerah penemuan kapak genggam selain di Punung Pacitan Jawa Timur juga ditemukan di daerah Jampang 

KulonParigi Jawa TimurTambang SawahLahat  dan KaliAnda SumatraAwangbangkal
Kalimantan,Cabenge Sulawesi,Sembiran dan Terunyan Bali. Selain di Indonesia kapak genggam juga ditemukan di Peking Tiongkokpada goa-goa di Choukoutien, serta sejumlah fosil yang mirip Pithecanthropus erectus, yang disebut dengan Sinanthropus pekine (Manusia Peking).
Kapak genggam
2.         Kapak Perimbas

Kapak perimbas berpungsi untuk merimbas kayu, memahat tulang dan sebagai senjata. Manusia kebudayan Pacitan adalah jenis Pithecanthropus. Alat ini juga ditemukan di Gombong (Jawa Tengah), Sukabumi (Jawa Barat), lahat, (Sumatra selatan), dan Goa Choukoutieen (Beijing). Alat ini paling banyak ditemukan di daerah Pacitan, Jawa Tengah sehingga oleh Ralp Von Koenigswald disebut kebudayan pacitan

Kapak Perimbas
3.         Alat-alat dari tulang binatang atau tanduk rusa
Salah satu alat peninggalan zaman paleolithikum yaitu alat dari tulang binatang. Alat-alat dari tulang ini termasuk hasil kebudayaan Ngandong. Kebanyakan alat dari tulang ini berupa alat penusuk (belati) dan ujung tombak bergerigi. Fungsi dari alat ini adalah untuk mengorek ubi dan keladi dari dalam tanah. Selain itu alat ini juga biasa digunakan sebagai alat untuk menangkap ikan.

Alat-alat dari tulang binatang atau tanduk rusa
4.         Flakes
Flakes yaitu alat-alat kecil yang terbuat dari batu Chalcedon, yang dapat digunakan untuk mengupas makanan. Flakes termasuk hasil kebudayaan Ngandong sama seperti alat-alat dari tulang binatang. Kegunaan alat-alat ini pada umumnya untuk berburu, menangkap ikan, mengumpulkan ubi dan buah-buahan.
Flakes

C.       KEBUDAYAAN PEBBLE (PEBBLE CULTURE)
a.         Kjokkenmoddinger (Sampah Dapur)
Kjokkenmoddinger adalah istilah yang berasal dari bahasa Denmark yaitu kjokken artinya dapur dan modding artinya sampah jadi Kjokkenmoddinger arti sebenarnya adalah sampah dapur. Dalam kenyataan Kjokkenmoddinger adalah timbunan atau tumpukan kulit kerang dan siput yang mencapai ketinggian ± 7 meter dan sudah membatu atau menjadi fosil. Kjokkenmoddinger ditemukan disepanjang pantai timur Sumatera yakni antara Langsa dan Medan. Dari bekas-bekas penemuan tersebut menunjukkan bahwa manusia purba yang hidup pada zaman ini sudah menetap. Tahun 1925 Dr. P.V. Van Stein Callenfels melakukan penelitian di bukit kerang tersebut dan hasilnya banyak menemukan kapak genggam yang ternyata berbeda dengan chopper (kapak genggam Palaeolithikum).
b.         Pebble (kapak genggam Sumatera = Sumateralith)
Tahun 1925, Dr. P.V. Van Stein Callenfels melakukan penelitian di bukit kerang tersebut dan hasilnya menemukan kapak genggam. Kapak genggam yang ditemukan di dalam bukit kerang tersebut dinamakan dengan pebble/kapak genggam Sumatra (Sumatralith) sesuai dengan lokasi penemuannya yaitu dipulau Sumatra. Bahan-bahan untuk membuat kapak tersebut berasal batu kali yang dipecah-pecah.
c.         Hachecourt (kapak pendek)
Selain pebble yang diketemukan dalam bukit kerang, juga ditemukan sejenis kapak tetapi bentuknya pendek (setengah lingkaran) yang disebut dengan hachecourt/kapak pendek.
d.        Pipisan
Selain kapak-kapak yang ditemukan dalam bukit kerang, juga ditemukan pipisan (batu-batu penggiling beserta landasannya). Batu pipisan selain dipergunakan untuk menggiling makanan juga dipergunakan untuk menghaluskan cat merah. Bahan cat merah berasal dari tanah merah. Cat merah diperkirakan digunakan untuk keperluan religius dan untuk ilmu sihir.


Artikel Lainnya

  • MATERI PELAJARAN SEKOLAH : CERITA BAHASA JAWA : ASAL USUL KOTA SALATIGA27/08/2018 -
  • MATERI PELAJARAN SEKOLAH : BAGIAN BAGIAN BUNGA LENGKAP BESERTA FUNGSINYA10/02/2018 -
  • MATERI PELAJARAN SEKOLAH : TERMODINAMIKA17/03/2017 - 0 Comment
  • MATERI PELAJARAN SEKOLAH : PERSAMAAN KEDUDUKAN SETIAP WARGA NEGARA DIHADAPAN HUKUM21/08/2017 - 0 Comment