Di ujung jalan ada sebuah surau tua. Di depannya ada kolam ikan, yang airnya mengalir melalui empat buah pancuran mandi. Dan di pelataran kiri surau itu ada seorang tua yang biasanya duduk di sana dengan segala tingkah ketuaannya dan ketaatannya beribadat. Sudah bertahun-tahun ia sebagai garin, penjaga surau itu. Orang-orang memanggilnya Kakek.
Sebagai penjaga surau, Kakek tidak mendapat apa-apa. Ia hidup dari sedekah yang dipungutnya sekali se-Jumat. Sekali enam bulan ia mendapat seperempat dari hasil pemungutan ikan mas dari kolam itu. Dan sekali setahun orang-orang mengantarkan fitrah Id kepadanya. Tapi sebagai garin ia tak begitu dikenal. Ia lebih di kenal sebagai pengasah pisau. Karena ia begitu mahir dengan pekerjaannya itu. Orang-orang suka minta tolong kepadanya, sedang ia tak pernah minta imbalan apa-apa. Tapi yang paling sering diterimanya ialah ucapan terima kasih dan sedikit senyum.
Tapi kakek ini sudah tidak ada lagi sekarang. Ia sudah meninggal. Dan tinggallah surau itu tanpa penjaganya. Hingga anak-anak menggunakannya sebagai tempat bermain. Perempuan yang kehabisan kayu bakar, sering suka mencopoti papan dinding atau lantai di malam hari. Jika dilihat sekarang, gambarannya seperti suatu kesucian yang bakal roboh. Dan kerobohan itu kian hari kian cepat berlangsungnya. Dan yang terutama ialah sifat masa bodoh manusia sekarang, yang tak hendak memelihara apa yang tidak di jaga lagi. Dan biang keladi dari kerobohan ini ialah sebuah dongengan yang tak dapat disangkal kebenarannya.
Beginilah kisahnya. Suatu hari aku datang mengupah Kakek. Biasanya Kakek gembira menerimaku, karena aku suka memberinya uang. Tapi sekali ini Kakek begitu muram. Pandangannya sayu ke depan, seolah-olah ada sesuatu yang yang mengamuk pikirannya. Tidak pernah aku melihat Kakek begitu durja dan belum pernah salamku tak disahutinya seperti saat itu. Kemudian aku duduk disampingnya dan berbicara pada kakek.
Kita membicarakan tentang Ajo Sidi. Ajo Sidi, si pembual itu. Sudah lama aku tak ketemu dia. Aku senang mendengar bualannya. Ajo Sidi bisa mengikat orang-orang dengan bualannya yang aneh-aneh sepanjang hari. Tapi ini jarang terjadi karena ia begitu sibuk dengan pekerjaannya. Tiba-tiba aku ingat lagi pada Kakek dan kedatangan Ajo Sidi kepada Kakek. Apakah Ajo Sidi telah membuat bualan tentang Kakek? Dan bualan itukah yang mendurjakan Kakek.
Kakek tersinggung dengan bualan Ajo Sidi. Kakek mulai menceritakan bualan Ajo Sidi. Kakek merasakan, apa yang diceritakan Ajo Sidi itu sebuah ejekan dan sindiran untuk dirinya. Dia memang tak pernah mengingat anak dan istrinya tetapi dia pun tak memikirkan hidupnya sendiri sebab dia memang tak ingin kaya atau bikin rumah. Segala kehidupannya lahir batin diserahkannya kepada Tuhannya. Dia senantiasa bersujud, bersyukur, memuji, dan berdoa kepada Tuhannya. Apakah semua yang dikerjakannya salah dan dibenci Tuhan? Atau dia ini sama seperti Haji Saleh yang di mata manusia tampak taat. Karena selalu beribadah kepada Tuhannya tak memikirkan suatu apapun. Tetapi dimata Tuhan dia itu lalai. Karena membiarkan anak cucu serta istrinya menderita, egois, hanya memikirkan dirinya sendiri. Padahal manusia hidup di dunia berkaum, bersaudara, tetapi tak dipedulikannya sedikitpun.
Demikianlah cerita Ajo Sidi yang kudengar dari Kakek. Cerita yang memurungkan Kakek. Dan besoknya, terdengar kabar bahwa Kakek meninggal. Ia menggoroh lehernya dengan pisau cukur. Kematiannya sungguh mengejutkan masyarakat di sana. Semua orang berusaha mengurus mayatnya dan menguburnya. Aku cari Ajo Sidi ke rumahnya. Tapi aku berjumpa dengan istrinya saja. Dan Ajo Sidi meninggalkan pesan agar dibelikan kain kafan buat Kakek tujuh lapis sedangkan Ajo Sidi tetap pergi bekerja.
UNSUR INTRINSIK :
- Sinopsis
Seperti rumah yang di tinggal penghuninya. Surau yang dulunya digunakan untuk beribadah kini hanya dipakai untuk sekedar bermain anak-anak. Tidak ada lagi panggilan adzan, sholat berjamaah, dan lantunan ayat-ayat suci Al-quran. Bahkan jika ada ibu-ibu yang membutuhkan kayu bakar, tak segan-segan mengambil salah satu bagian dari tiang-tiang surau yang mulai lapuk dan hampir roboh. Tak ada lagi yang mau peduli terhadap surau tempat beribadah itu. Itulah pemandangan yang bisa dilihat dari surau seorang kakek setelah dia meninggal. Tetapi sebagai garin kakek itu begitu di kenal. Orang lebih mengenalnya sebagai pengasah pisau.
Sebelum kakek meninggal kakek sempat bercerita tentang Ojo Sidi. Ojo sidi adalah seorang pembual yang datang kepada kakek sebelum kakek meninggal. Ojo sidi mengisahkan tentang kejadian Haji Shaleh di akhirat ketika dia dimasukan dalam neraka dan Haji Saleh tidak menerimanya karena Haji Shaleh merasa dia adalah seorang yang rajin beribadah. Tak sekalipun Haji Shaleh meninggalkan kewajiban Tuhan. Bahkan setiap waktunya hanya untuk menyembah Tuhan. Kemudian Haji Saleh datang menuntut kepada Tuhan atas semua apa yang dia kerjakan. Ternyata apa yang dikerjakan itu justru salah. Haji Saleh tidak seharusnya hanya mementingkan dirinya sendiri untuk beribadah dan sembahyang setiap waktunya demi masuk surga. Dan melupakan kewajibannya kepada anak dan isrtinya sehingga jatuh dalam kemelaratan. Itu yang membuat haji Saleh di masukan dalam neraka. Padahal di dunia ini hidup berkaum, bersaudara, tetapi Haji Saleh tidak mempedulikan mereka sedikit pun.
Keesokan harinya, kakek ditemukan meninggal dengan keadaan yang mengenaskan. Ia menggorok lehernya dengan pisau cukur. Ternyata Ojo Sidi telah meninggalkan pesan kepada istrinya untuk membelikan tujuh lapis kain kafan untuk kakek
• Tema :Tema cerpen ini adalah seorang kepala keluarga yang lalai menghidupi keluarganya.
• Amanat : 1) jangan cepat marah kalau diejek orang,
2) jangan cepat bangga kalau berbuat baik,
3) jangan terpesona oleh gelar dan nama besar,
4) jangan menyia-nyiakan yang kamu miliki, dan
5) jangan egois.
• Latar
-Latar Tempat
kota, dekat pasar, di surau, dan sebagainya
-Latar Waktu
Beberapa tahun yang lalu.
• Alur (plot)
Alur cerpen ini adalah alur mundur karena ceritanya mengisahkan peristiwa yang telah berlalu yaitu sebab-sebab kematian kakek Garin.
• Penokohan
Tokoh-tokoh penting dalam cerpen ini ada empat orang, yaitu tokoh Aku, Ajo Sidi, Kakek, dan Haji Soleh
- Tokoh Aku berwatak selalu ingin tahu urusan orang lain.
- Ajo Sidi adalah orang yang suka membual
- Kakek adalah orang yang egois dan lalai, mudah dipengaruhi dan mempercayai orang lain.
- Haji Soleh yaitu orang yang telah mementingkan diri sendiri.
• Sudut Pandang
Di dalam cerpen ini pengarang memposisikan dirinya dalam cerita ini sebagi tokoh utama atau akuan sertaan sebab secara langsung pengarang terlibat di dalam cerita dan ini terasa pada bagian awal cerita. Selain itu pengarang pun berperan sebagai tokoh bawahan ketika si kakek bercerita tentang Haji Soleh di depan tokoh aku.
• Gaya bahasa
Di dalam cerpen ini pengarang benar-benar memanfaatkan kata-kata. Gaya bahasanya sulit di pahami, gaya bahasanya menarik dan pemilihan katanya pun dapat memperkaya kosa kata siswa dalam hal bidang keagaman.
UNSUR EKSTRINSIK :
∙ Nilai sosial
Kita harus saling membantu jika orang lain dalam kesusahan seperti dalam cerpen tersebut karena pada hakekatnya kita adalah makhluk sosial.
∙ Nilai Moral :
Kita sebagai sesama manusia hendaknya jangan saling mengejek atau menghina orang lain tetapi harus saling menghormati.
∙ Nilai Agama :
Kita harus selau malakukan kehendak Allah dan jangan melakukan hal yang dilarang oleh-Nya seperti bunuh diri, mencemooh dan berbohong.
∙ Nilai Pendidkan :
Kita tidak boleh putus asa dalam menghadapi kesulitan tetapi harus selalu berusaha dengan sekuat tenaga dan selalu berdoa.
∙ Nilai Adat :
Kita harus menjalankan segala perintah Tuhan dan memegang teguh nilai- nilai dalam masyarakat.
HAL-HAL YANG MENARIK
- Surau tidak difungsikan, anak-anak menggunakannya sebagai tempat bermain berbagai macam kesukaan, dan perempuan sering mencopoti papan atau lantai di malam hari untuk dijadikan kayu bakar. Bersikap masa bodoh dan tidak memelihara sebagai mana mestinya,
- Bualan Ajo Sidi tentang kejadian di neraka membuat si kakek akhirnya muram dan akhirnya bunuh diri.
- Seorang laki-laki menikah dan hanya mengabdikan hidupnya sepanjang hari di surau tanpa memikirkan hidup duniawi harta ataupun kekayaan, dan melalaikan tugasnya sebagai seorang suami dan seorang ayah.
- Taat beribadah saja, membiarkan negara kacau balau, melarat, hasil bumi dikuasai negara lain tanpa memikirkan kehidupan anak cucu, pemalas dan tidak mau bekerja,
- Melakukan perbuatan sesat dengan cara bunuh diri,
- Ajo Sidi tidak ikut melayat orang yang meninggal akibat bualannya, hanya berpesan agar dibelikan kain kafan 7 lapis sedangkan dai tetap pergi bekerja.
No comments:
Post a Comment